Kita bisa memilih cara untuk bahagia,
walaupun bersama mereka yang punya perbedaan dengan kita. Kita bisa menghadapi
semua rintangan yang ada di depan sana, asalkan kita sanggup. Perbedaan bukanlah
sesuatu yang salah, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Cerita ini tentang mereka,
para pejuang hubungan beda keyakinan.
Selama belasan tahun gue belajar, gue selalu diingatkan dengan adanya Bhinneka Tunggal Ika. Katanya, berbeda-beda tapi tetap satu. Katanya, hidup dalam keberagaman itu indah, saling melengkapi. Katanya, hidup berdampingan bareng orang-orang yang punya latar belakang berbeda itu nggak apa-apa, malah jadi warna-warni di hidup yang dijalanin. Tapi, kenapa ketika ada dua insan yang memiliki rasa yang sama namun punya latar belakang agama yang berbeda sulit untuk bersatu? Gue bingung, bertanya-tanya kepada diri sendiri, ”Apa bener, kalo ‘beda’ nggak boleh bersatu?”. Sampai akhirnya gue ngobrol sama temen-temen gue tentang masa lalu mereka yang pernah punya hubungan lebih dari sekedar temen, sama orang dengan latar belakang agama yang berbeda, baik yang cuma deket maupun yang pacaran. Mungkin cerita yang gue angkat kali ini terasa cukup kontroversial, tapi, menarik banget untuk dikulik lebih dalam.
Selama belasan tahun gue belajar, gue selalu diingatkan dengan adanya Bhinneka Tunggal Ika. Katanya, berbeda-beda tapi tetap satu. Katanya, hidup dalam keberagaman itu indah, saling melengkapi. Katanya, hidup berdampingan bareng orang-orang yang punya latar belakang berbeda itu nggak apa-apa, malah jadi warna-warni di hidup yang dijalanin. Tapi, kenapa ketika ada dua insan yang memiliki rasa yang sama namun punya latar belakang agama yang berbeda sulit untuk bersatu? Gue bingung, bertanya-tanya kepada diri sendiri, ”Apa bener, kalo ‘beda’ nggak boleh bersatu?”. Sampai akhirnya gue ngobrol sama temen-temen gue tentang masa lalu mereka yang pernah punya hubungan lebih dari sekedar temen, sama orang dengan latar belakang agama yang berbeda, baik yang cuma deket maupun yang pacaran. Mungkin cerita yang gue angkat kali ini terasa cukup kontroversial, tapi, menarik banget untuk dikulik lebih dalam.
Gue yakin, di antara kalian yang
pernah baca ini pasti nggak sedikit yang pernah ngerasain ada di posisi yang
sering dikasih pilihan “ganti pasangan atau ganti Tuhan”. Gue juga punya
beberapa temen deket yang udah ngerasain ada di posisi kayak gini. Tapi, jujur,
gue juga sering mikir, dari awal udah tau ada perbedaan tapi masih aja
dilanjutin. Well, alasannya cuma satu,
perasaan emang nggak bisa dibohongin. Yang namanya nyaman dan sayang juga nggak
bisa milih-milih, nggak bisa diatur, dan nggak ada yang bisa membatasi… bahkan
agama sekali pun. Good for you yang jatuh
ke orang yang tepat (eh, tepat kata siapa sih? Kata lo atau kata orang-orang di
sekitar lo hayo?). Tapi, apa kabarnya sama mereka yang ternyata terjebak dengan
orang yang, KATANYA, nggak tepat? Oke, nggak apa-apa. Pilihannya juga mungkin cuma
satu, jalanin dulu aja, nggak tau sampai kapan.
Hubungan lo sama dia emang milik
kalian, tapi sadar nggak sih kalo sekitar lo juga (sok mau) ikut andil atas apa
yang lagi lo jalanin? Kita bahas satu persatu, mulai dari temen. Kali ini gue
juga yakin, pasti nggak sedikit dari temen lo yang mendukung atau bahkan nggak
mendukung hubungan lo dengan dia yang beda agama, kan? Temen gue pun begitu,
hubungan mereka juga dicampuri oleh temen-temen di sekitarnya. Banyak juga kok
temen mereka yang kontra sama hubungan itu. Orang-orang bilang, “Ya udah lah,
hubungan beda agama, ujung-ujungnya juga pasti bakalan putus.” Ada juga yang
bilang “Nggak apa-apa, jalanin dulu aja, yang penting sekarang bikin happy, jadi penyemangat.” Walaupun
banyak yang ngasih tanggapan negatif secara terang-terangan tentang hubungan
yang temen gue jalanin, masih ada juga kok yang ngasih banyak saran atau
masukan, tapi ujung-ujungnya bilang kalo hubungan mereka nggak akan berhasil
juga, sih. Respon temen-temen gue ini juga beragam, ada yang kepikiran banget
sampe akhirnya galau, ada yang berusaha untuk nggak peduli padahal sebenernya
peduli banget, tapi ada juga yang emang cuek nggak peduli mau temennya ngomong
apa yang penting dia seneng-seneng aja. Sampai sini kayaknya tanggapan temen di
sekitar nggak terlalu bermasalah sama hubungan mereka. Yap, gue tau pasti
kalian berpikir hal yang sama dengan gue. Tanggapan yang ujung-ujungnya menyakitkan
biasanya adalah dari keluarga, khususnya orang tua. Nggak semua orang tua
temen-temen gue tau kalo mereka sedang (atau pernah) ngejalanin hubungan yang
lebih dari sekadar temen sama orang yang beda agama. Sekalinya tau, pasti diceramahin
dari A sampai Z. Bahkan sebelum orang tua mereka tau pun biasanya dari awal
udah diwanti-wanti. Nah, di sini menariknya. Kenapa ya, orang tua kita melarang
untuk nikah atau bahkan cuma pacarana aja sama yang beda agama? Semua
temen-temen yang gue tanyain ternyata orang tuanya punya pendapat yang sama.
Katanya, hubungan beda agama itu udah nggak bisa ditoleransi. Katanya, kalau
nggak seiman harus pindah biar jadi sama kayak kita. Tapi di saat yang
bersamaan kita tau, kalo agama itu bukan mainan, dan perasaan juga nggak bisa
dimainin begitu aja. Sayangnya, untuk sebagian orang tua, bukan hanya perbedaan
agama yang jadi masalah. Terkadang perbedaan etnis juga jadi masalah untuk mereka.
Hal-hal tersebut mungkin mereka anggap sebagai hal yang prinsipil. Lalu, mau
nggak mau kita sebagai anaknya jadi ngikutin aja, tanpa mikirin perasaan kita
sendiri.
Kalau ngomongin perbedaan agama, jelas
deket banget kaitannya dengan toleransi, kayak yang udah gue sebutkan di atas.
Toleransi menurut gue adalah ketika kita menghargai adanya perbedaan yang ada
di sekitar kita, tetap memahami mereka yang punya latar belakang berbeda dengan
kita, tanpa merasa terganggu dengan adanya hal tersebut. Bagi temen-temen gue
yang punya hubungan romantis dengan mereka yang berbeda agama, itu merupakan
bentuk dari toleransi yang mereka lakukan. Gimana enggak, mereka bisa bersatu (walau
cuma untuk sementara) padahal apa yang mereka percayai berbeda. Dengan
ngejalanin hubungan sama orang yang ‘beda’, mereka jadi bisa lebih tau tentang
agama satu sama lain. Dari situ mereka bisa ngerti dan mulai nerima keimanan mereka
masing-masing. Walaupun mereka punya agama yang berbeda, mereka bisa saling
mendukung. Mulai dari sekadar nemenin atau ngingetin ibadah satu sama lain juga
udah bagian dari toleransi menurut mereka. Salah satu temen gue yang pernah
(atau bisa dibilang sedang juga, sih..) menjalin hubungan sama yang beda agama
pun bilang, semenjak mereka bareng-bareng, temen gue ini jadi mau menyesuaikan
diri dengan agama yang dianut oleh pasangannya. Temen gue punya latar belakang
agama yang cukup kental, yang mana terbentuk dari bagaimana cara orang tuanya
membesarkan dia. Awalnya temen gue merasa aneh karena emang nggak terbiasa
dengan budaya dan agama yang dijalanin oleh pasangannya, tapi seiring berjalannya
hubungan, dia jadi ngerti kalau memang itu adalah bagian dari bagaimana pasangannya
beribadah kepada Tuhannya. Cara mereka beribadah memang berbeda, tapi biar
bagaimana pun harus diterima karena itu adalah sesuatu yang dipercayai oleh
mereka masing-masing.
Mereka memang mengakui kalau hubungan
yang mereka jalani adalah suatu bentuk toleransi. Tapi sayangnya, hubungan
mereka juga nggak bertahan lama. Dan iya, salah satu alasannya juga karena
agama. Tapi harus ada yang disyukuri juga, karena agama bukanlah alasan utama
dari perpisahan yang mereka pilih. Mungkin bisa jadi ini adalah salah satu alasan
kalian yang berpisah karena agama, yaitu kalian merasa iri sama orang lain di
luar sana yang bisa melaksanakan ibadah bersama, di rumah ibadah yang sama. Nggak
sedikit pula dari temen-temen gue yang menjalankan hubungan beda agama ini yang
iri dengan orang di luar sana yang bisa berhasil sampai ke jenjang yang lebih
serius. Katanya, kalian keren banget! Nggak ada dari kita yang tau pasti gimana
seneng, susah, dan sedihnya bisa sampai ada di titik yang lebih serius bareng
orang yang punya agama berbeda. Di Indonesia, menikah bukanlah hanya menggabungkan
dua orang menjadi satu, tetapi juga keluarga. Itu lah yang selalu menjadi permasalahan
yang berakhir perpisahan untuk sebagian orang.
Mereka
yang pernah berada di hubungan beda agama pada akhirnya menyerah juga. Bukan
karena tidak bisa saling menghargai. Bukan masalah kepercayaan apa yang dianut
oleh pasangannya. Masalahnya adalah pada nilai yang sudah ditanamkan ke dalam
diri mereka sejak kecil. Jika ditanya lebih dalam, mereka cukup menghargai perbedaan
yang ada di hubungan mereka. Tetapi, mereka memiliki pemikiran bahwa hubungan percintaan
yang ideal adalah hubungan dengan mereka yang seiman. After all, mereka tau juga kalau hubungan mereka tidak akan bertahan
lama jika tidak ada salah satu dari mereka yang mau mengalah. Sebagian dari temen
gue pun nggak menganjurkan, karena akhirnya hanya akan membuat sakit. Kembali lagi
ke pernyataan yang biasa disebutkan oleh kebanyakan orang, at the end of your relationship, yang lo harus pilih adalah ganti
pasangan atau ganti Tuhan. Hingga saat ini, mungkin kalian yang juga pernah
mengalami hal yang sama lebih memilih untuk tidak memiliki status lebih dari
teman dengan mereka yang ‘berbeda’.
Kalau
ngomongin dari perspektif gue, gue sendiri masih cukup bimbang untuk memilih
pro atau kontra dengan hubungan macam ini. Gue sangat menghargai perbedaan yang
ada, gue pun tidak menentang adanya hubungan pacarana beda agama. Tapi kalau
untuk dilanjutkan ke hubungan yang lebih serius, gue rasa akan sulit. Sama
kayak apa yang udah gue omongin di atas dari tadi, yang akan digabungkan ini
adalah dua keluarga. Kebayang nggak sih, akan seribet apa? Ya, walaupun
sebenernya, balik lagi tergantung dengan bagaimana dua keluarga itu memandang
perbedaan yang ada. Selama salah satu keluarga masih nggak bisa menoleransikan
hal-hal kayak gini, gue rasa akan sangat sulit. Tapi, kalau mikir egoisnya,
hubungan ini siapa sih yang ngejalanin? Lo dan pasangan lo, kan? Selama lo bisa
menerima semua perbedaan yang ada, nggak akan susah untuk lo jalanin. Selama lo
happy dengan keputusan lo dan lo
masih sanggup untuk menelan segala omongan orang tentang ketidakberhasilan
hubungan beda agama, go get it!
Tulisan
ini gue tujukan kepada teman-teman gue yang sedang (atau pernah) menjalani
hubungan dengan orang yang punya perbedaan agama. Untuk kalian, terima kasih udah mau berbagi cerita dengan gue. Selamat, ya!
Kalian hebat banget, bisa melewati semuanya walaupun mungkin sekitar kalian tidak
mendukung. Kalian keren, bisa jadi bukti dari kehidupan toleransi antara umat
beragama yang mungkin dapet omongan negatif dari mana-mana. Perbedaan agama
mungkin emang hal yang sangat mendasar, sesuatu yang sangat penting untuk
sebagian besar orang. Makanya, perjalanan hubungan kalian pasti juga nggak
mudah. Kalian bisa bersatu, walau mungkin nggak untuk selamanya. Jadikanlah
momen ini sebagai pembelajaran bagi kalian untuk bisa hidup berdampingan dengan
mereka yang punya latar belakang berbeda. Suatu saat nanti, ketika semua orang udah
sadar kalau hidup dengan penuh keanekaragaman memang indah, mungkin mereka baru
akan paham dengan apa yang kalian jalanin saat ini. Keberagaman memang indah,
tapi hanya untuk sebagian orang yang mengerti makna dari keberagaman itu
sendiri. Untuk jawaban dari pertanyaan yang pertama gue lontarkan di paragraf pertama
tulisan ini, yang beda tetap boleh bersatu, tergantung bagaimana kalian menyikapinya.
Beberapa orang memang nggak menganjurkan untuk sampai di hubungan seperti ini,
bahkan melarang. Tapi, perasaan nggak bisa dibuat-buat. Perasaan nggak bisa
dipaksakan harus memilih dengan siapa dia merasa nyaman. Usahakan dulu apa yang
lo jalankan sampai kapanpun lo sanggup. Kalau memang hubungan ini adalah lo yang
inginkan, kalau memang lo bisa menerima segala konsekuensi yang ada, kenapa nggak
berusaha lebih keras untuk bisa melesat lebih jauh?
No comments:
Post a Comment